TUJUH BATU
Oleh: Khalid Alrasyid

Jika hujan sudah reda
Akan kukalungkan labirin mantra
Sepatah lalu yang hilang
Tak menjadi sampah terbuang

Sejarah akan selalu terulang
Mengekor pada putaran waktu
Mengendap dalam ruang tunggu
Menjadi parasit tulang belulang

Bertahun-tahun kita ditikam cemas
Wajah-wajah cinta diseret panas
Mengakar darah pada tanah
Merabuk cinta dalam nanah

Jika masih ada ragu
Pandanglah tujuh rupa batu
Yang digilas zaman dulu
Menggerus air mata ibu

Mojokerto, 29 November 2020

 

SECANGKIR HUJAN
Oleh : Khalid Alrasyid

 Membaca hujan wajahmu tersimpan
Samar menumpah rintik dedaunan
Mengarak mendung menyimpan rindu
Dalam ketaksaan dan membeku

Ada gigil renyah menyeruak
Dan aroma tanah basah
Memanggil cahaya yang sesak
Lalu pergi membaca arah

Matamu merona merah jambu
Menjadi sulur mengejawantah waktu
Menopang lalang mencumbu angin
Mengakar dalam ceruk dingin

Entah gelas yang keberapa
Aku harus menyeduh rasa
Sedang hujan kian gaduh
Pada kata paling aduh

Surabaya, 1 Desember 2020

 

MERAYU TUHAN
Oleh : Khalid Alrasyid

Aku bermain dengan hujan
Mendulang lumpur dunia perawan
Kadang hanya sedikit gerimis
Tapi cukup menjadi tangis

Menitip rindu pada waktu
Aku tergelincir pada hari
Trotoar berdebu melelahkan mataku
Memburu waktu mengutuk diri

Aku bermain dengan hujan
Menengadahkan kepala pada awan
Menyilangkan kaki dan tangan
Merayu Tuhan memberi pertolongan

Sampailah lembayung jingga meredup
Membawa doa-doa yang meletus
Menghilangkan lumpur-lumpur yang melekat
Menjaga malam tanpa syarat

Surabaya, 2 Desember 2020

 

 DI BAWAH LAMBAIAN DASTERMU
Oleh : Khalid Alrasyid

Sepenggal sore menanak senyap
Namamu mengabut pada kaca
Memecah angin mengulum dedaun
Lunas rindu menanti bertahun-tahun

Sebatang pohon bambu terlentang
Membelah wajah terang rembulan
Dan kusimpan segenap bintang-bintang
Agar sempurna hangat perapian

Di bawah lambaian dastermu
Kutanamkan cinta paling rebah
Menurunkan hati paling nujum
Hilang gundah dan melenguh

Kautikam malam penuh gamblang
Menombak waktu dengan pesan
Riuh ombak terjepit karang
Hilang malam dalam pelukan

Mojokerto, 3 Desember 2020

 

BIODATA PENULIS

Khalid Alrasyid, terlahir dari pasangan M. Sikkri dan Ma’ani di Blumbungan-Pame-kasan, anak ke 6 dari 8 bersaudara. Saat ini tinggal di Desa Mojorejo, Kemlagi-Mojokerto. Seorang Instruktur di Lemdik TNI AL (Kodikopsla-Kodiklatal). Pernah mengajar di SMK Sultan Agung, Kemlagi-Mojokerto, Jabatan terakhir Waka Kesiswaan.

Karya-karyanya bisa dilihat di Kitab Putiba Indonesia Takziah Bulan Tujuh; Segugus sajak Suara-suara Gagak;  Rangkaian sajak pilihan Meneroka Jiwa-jiwa Puisi; Antologi Putiba Wajah Semusim; Antologi Puisi Ratapan Kursi Suci. Antologi Puisi: Delapan Penjuru Mata Angin; Sehimpun Puisi dan Pentigraf Lelaki Berdada Puisi.

Saat ini aktif di Komunitas Teras Putiba Indonesia dan Komunitas Desa Tatika Indonesia. Dapat disapa di Email:  kalrasyid7@gmail.com; dan HP: 085331122207

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here