MAAFKAN AKU KEKASIH

Kupahat luka
agar kau tahu pedihnya mencintaimu.
Kureguk secawan airmata,
agar kau paham betapa nestapa hatiku karenamu
Selaksa makna kucoba simpulkan
namun tak kugapai sedikitpun setiamu.

Kisah lama.

Sesaat, pesona nada pertama dawai itu
dengan lirik cinta menoreh relungku.
lirikan matanya menghujam lembah egoku.
Langit dan bumi menjadi saksi
ketika suaraNya memperdengarkan kun
ah, kembali nestapa
karena tak kutemui surga disana.

Cinta, dia mulai mencipta esai
yang tak bermakna, usang.
Insan, kau hanya mampu mengulang-ulang
kesalahan yang sama tanpa sulingan.
Tetap sama tanpa samar.
Periuk hati itu telah terisi penuh,
penuh!
Oleh milyaran, bahkan tanpa tepi.
Tanpa jumlah karena memang tak terhingga
Dia, ya hanya dia saja cinta tunggalnya
Pokok dari segala ngilu dan bugar tubuh
yang dipunyainya

Meski kadang menginjak jarum dan belati.
Meski kadang pergi dan lama kembali.
Mengembara se larik dua larik puisi kehidupan.

Aaaaaaakkkkhhhh!!! Teriaklah!
Teriaklah duhai Kekasihh!
Panggil namaku! Jangan Kau tolak aku!
Jangan bertikai denganku! Rindu ini menggebu.
Tolong maafkan aku
Aku tak mau berpisah denganmu.

Mojokerto, Agustus 2020

YANG TERHEMPAS

Masih mendung
Harapan koyak moyak
Sungai-sungai menyertakan sampah dan kotoran
Deru bising klakson menyeruak

Tertatih
Ringkih
Perih
Jari-jari kakiku terasa letih
sepatu hitam berhak pendek ini tak lagi nyaman
menyangga tubuhku yang makin kuyu
berat dan sekarat

Jantung ini masih kurasakan degubnya
kencang menahan gejolak yang ingin melesat
Nanar, nanar mataku menghentakkan egoku
Tergugu
Pilu
Kutundukkan kepala, rintih ini lirih
pada angin, samarkan irama getir

Kuhentikan langkah
pada sebuah jembatan kecil tua
di tengah kota
Angin panas ini membawa luka
makin dalam
Semilirnya tak lagi kurasakan
kenangan justru makin menyayat
tersamarkan oleh senyuman

Kembali kususuri jalanan setapak ini
kutengadah pada langit
rona merah saga tersemat manis
pada balutan warna biru ke hitaman

Senja dan mendung
sedikit mengusir hawa menyengat sore ini
setapak demi setapak kaki ini masih
menyertai pulangku menuju malam
hingga menemui titik
diujung jalanku

Ternyata begitu menyakitkan
menjadi yang terhempas
setelah sejuta beling melukaiku
demi kamu

Mojokerto, Agustus 2020

HATI

Hati adalah entitas. Lebih dalam
Dari sudut pandang penjabaran filsafati.
Dia abstraksiā€¦namun juga mewujud.
Hatimu, hatiku, lebur jadi satu.
Menyisakan semu mengharu biru
begitu pujangga cinta menyeru.

Namun kataku, lihatlah matanya
dan kau akan tahu makna,
hati akan kentara.
Kusentuh hatimu bukan dengan bibirku
namun dengan hatiku.
Dan Kau akan Merasa getar
di seluruh ruang dan waktu.

Mojokerto, Agustus 2020

 

Tentang Penulis

Eka Sri Wahyuni, S.Psi, Lahir di Mojokerto 19 Pebruari 1983. Lulusan S1 Kampus Hijau, Fakultas Psikologi, UIN Malang (UIN) pada tahun 2006. Dan sekarang sedang menempuh Program Studi S2 Psikologi Profesi. Menjadi guru Bimbingan dan Konseling sejaktahun 2009 di SMP Negeri 1 Jatirejo Mojokerto. Kini berdomisili di wilayah Kabupaten Mojokerto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here